Technopark SMKN 1 Purwokerto Ajak Kerjasama InnoCircle

SMKN 1 Purwokerto adakan kerjasama dengan inkubator start up InnoCircle, Sabtu (10/11), dalam mewujudkan siswa yang menjadi pengusaha profesional dan berhasi. Perjanjian (MoU) tersebut berisi tentang pendampingan-pendampingan kepada siswa SMKN 1 Purwokerto sebagai salah satu sekolah yang ditunjuk mengelola Technopark.

Direktur Technopark SMKN 1 Purwokerto, Carso mengatakan, Technopark dengan InnoCircle mengadakan kerjasama terutama di bidang penjaringan start up yang nanti akan dipilih yaitu dari beberapa kelompok siswa yang sudah membentuk start up.

Perjanjian tersebut akan kami buat hitam di atas putih jadi kalau misalnya ada sesuatu yang tidak kita inginkan sebagai bukti untuk perjanjian yang kita buat itu sehingga bisa dibahas bersama antara kedua belah pihak, katanya.

Selaku sekolah yang ditunjuk untuk pengelolaan Technopark dan mendapat bantuan dari pemerintah yaitu dari Direktorat PSMK. “Maka kami adakan kerjasama dengan InnoCircle yang sudah berpengalaman menjadi pendamping start up sehingga mudah-mudahan hasil yang diperoleh lebih baik”, ujarnya.

Harapan dari kerjasama dengan InnoCircle adalah bisa menghasilkan start up yang unggul sehingga memberikan bekal kepada siswa kelak yaitu menjadi pengusaha yang berhasil. “Dan juga untuk membiayai hidup, baik hidup sendiri maupun keluarganya”, bebernya.

Proses inkubasi yang sudah dilakukan yaitu memperkenalkan tentang technopark kepada guru, karyawan dan siswa di SMKN 1 Purwokerto. “Kami memperkenalkan inkubasi di technopark, kebetulan kami sudah mempunyai ruang khusus untuk technopark, sudah dilaunching untuk tempatnya sehingga nanti tanggal 29 September 2018 akan launching produk start up”, tambahnya.

CEO InnoCircle, Anis Saadah, HC., mengatakan, mekanisme inkubasi menggunakan metode presentasi, workshop, game, design thinking dan design sprint. “Sedangkan materi yang diberikan adalah mulai dari validasi ide, market analisis, prototipe hingga pitching bisnis model”, karanya.

Kendala membangun start up di kalangan pelajar adalah inisiatif dan disiplin. Siswa menganggap start up hanya program sekolah dan belum melihat sebagai proses yang dapat berkelanjutan, hingga pasca lulus. Hai ini yang berdampak pada disiplin ketika mengikuti alur inkubasi. “Solusinya diberikan kontrak belajar, mengingatkan dan selalu memberikan motivasi bahwa membangun start up di usia dini bisa menjadi solusi ketika nanti sudah lulus”, ujarnya. (dik)

Sumber: Radar Banyumas, 12 November 2018.