Start-Up “Disruptor”: Pendanaan Mudah Didapat, Namun Jumlah Sedikit

Diterjemahkan Oleh : Marfa U

Dalam dunia start up, disruptor atau pengganggu diibaratkan sebagai remaja tanggung yang populer, yang digadang-gadang akan mengubah dunia, atau setidaknya produk buatannya akan kita beli nantnya. Diibaratkan juga dia, si remaja ini menunjukan pada kita bagaimana payahnya menjadi orang tua dewasa, dan hal ini berimbas bagaimana para pembeli atau pelanggan menjadi pribadi yang berbeda dan unik, supplier yang kemudian merasa mereka menjadi lebih cerdas karena kerja samanya, dan investor yang cenderung senang karena mereka merasa bahwa mereka menanamkan modal yang tepat bagi calon “pemain hebat” di masa depan.

Setidaknya, seperti itulah gambaran atmosfir disrupsi yang mau tak mau kita percayai. Katakan produk atau teknologi keluaran baru akan lebih menjual pada stakeholder jika masyarakat dapat diyakinkan bahwa produk tersebut akan bersifat “disruptif”. Namun apakah bukti dapat menguatkan keyakinan tersebut? Spesifiknya, apakah memerkenalkan diri sebagai disruptor benar-benar akan mendatangkan dukungan bagi start-up kita?

Nah untuk menjawab hal ini, telah diteliti sebanyak 918 start-up di Israel dalam mencari pendanaan awal. Israel memiliki bidang kewirausahaan yang unggul dengan banyak start-up dengan teknologi canggih daripada negara lainnya. Mereka telah mengeluarkan banyak produk unggulan seperti Waze (aplikasi nagivasi mengemudi yang telah dibeli Google pada tahun 2013 senilai 1,3 milyar dolar),  NDS (penyedia software video yang telah diakuisi Cisco di tahun 2012 senilai 5 milyar dolar), Playtika (platform game yang telah dibeli Giant Interactive senilai 4.4 milyar dolar pada 2016), dan Mobileye (software dan penyedia chip untuk kendaraan otonom yang telah diakuisi Intel senilai 15.3 milyar pada 2017).

Penelitian ini mengambil data berdasarkan StartUp Nation Central (SNC), organisasi nirlaba pribadi yang yang melacak arus kegiatan start up di Israel dan menyediakan platform lengkap bagi investor untuk mencari start up yang menjanjikan. Dua pengkode secara manual menilai  bagaimana dan apakah sebuah profil start up mengartikulasikan visi secara fundamental untuk mengubah ranah industri, “Disruptif” kekuatan struktur dari yang industri yang sudah ada, atau meniru bagaimana sebuah industri berjalan. Semua jawaban “ya” diberi nilai satu dan setiap jawaban “tidak” diberi nilai nol. Tiap total skor diratakan pada seluruh pengkode, dengan memberikan skor diantara 0 dan 3 dengan penambahan sebanyak 0.5.

Apa yang didapat dari hasil tersebut? Sayangnya, yang didapat adalah satu jawaban “ya”  namun bukan bentuk konfirmasi atau penolakan. Hasil menunjukan bahwa, “ya”, meningkatkan pengukuran kami terhadap gangguan perusahaan dalam mengkomunikasikan visi dengan satu standar deviasi (0.78) dalam meningkatkan peluang perusahaan yang menerima pendanaan awal sebesar 22%. Tetapi perusahan juga akan menemukan bahwa jumlah tersebut akan turun sebesar 24%–untuk tipikal perusahaan Israel uyang mendapat 87.000 dolar kurang dalam satu putaran, dan 361.000 dolar kurang dalam putaran seri A.

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan yang menarik: “Mengapa investor ingin berinvestasi namun kurang murah hati pada saat yang sama”. Untuk menjawab pertanyaan ini, 203 partisipan direktrut dengan pengalaman investasi dalam eksperimen online. Secara acak dibagi menjadi dua percobaan kondisi dalam peluang investasi dalam perusahaan. Perusahaan tersebut diambil dari sampel Israel dan identik dengan kedua kondisi eksperimental. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa deskripsi perusahaan yang dimanipulasi untuk menampilkan sebuah perusahaan itu adalah disruptif atau bukan. Kemudian partisipan diminta untuk menilai potensi dari perusahaan dan diminta memutuskan apakah dan berapa mereka akan berinvestasi di perusahaan.

Yang didapat dari eksperimen tersebut adalah adalah para investor tak terlalu memerlakukan perusahaan “diruptor” sebagai suatu hal yang serius. Mereka ingin menjadi bagian dari “susatu yang lebih besar selanjutnya”—perusahaan yang memiliki potensial luar biasa dalam hasil. Namun mereka tak ingin “meletakan banyak telur sekaligus dalam satu tempat”—dengan berinvestasi sedikit pada mereka yang menganggap diri sebagai “penganggu”, investor juga tak tak terlalu memberikan banyak dana di perusahaan pada masa depan, dengan pertimbangan resiko dan ketidakpastian yang lebih mudah dipahami dan diukur.

Kemudian apa pengaruhnya terhadap seorang entrepreneur? Semua bergantung pada resiko dan kemungkinan ketidakpastian dalam perusahaan. Jika perusahaan tersebut memiliki proporsi resiko yang tinggi akan lebih memiliki tantangan dalam mendapatkan investasi, maka dari itu harus menyusun rancangan yang persuasif dalam meyakinkan investor, melantangkan tentang “gangguan” mungkin dapat menjadi opsi. Namun jika perusahaan tesebut lebih beresiko dalam ide daripada eksekusi—lebih baik fokus terhadap pengalaman dan kemampuan yang dipunyai dari pada membuat “”gangguan”. Karena apa yang didapat haruslah berdasar yang dibutuhkan.

  • Diterjemahkan dari : http://bit.ly/disrupsistartup